Tidak ada satu metode valuasi yang cocok untuk semua emiten. Karena itu, setiap emiten kami kelompokkan ke dalam profil bisnis tertentu, dan profil inilah yang menentukan metode serta bobot yang digunakan.
| Profil | Metode (bobot) | Alasan |
|---|---|---|
| Bank | PBV wajar 25% · Residual Income 25% · DDM 2 tahap 20% · PER wajar 10% · PBV median sektor 10% · PER median sektor 10% | Aset dan liabilitas bank adalah instrumen keuangan, sehingga nilai buku mendekati nilai pasarnya. Arus kas bebas tidak bermakna karena utang (dana pihak ketiga) adalah bahan baku bisnis. Metode utama: PBV wajar berbasis ROE dan Residual Income (laba di atas biaya modal), dicek dengan DDM, PER wajar, serta PBV dan PER median bank sejenis. |
| Defensif | DCF (FCFE) 2 tahap 35% · PER wajar 15% · DDM 2 tahap 15% · PER median sektor 15% · Lynch (PEG = 1) 10% · Earnings Power 10% | Permintaan stabil membuat arus kas mudah diproyeksikan, sehingga DCF menjadi metode utama. PER wajar, DDM, PER median sektor, nilai wajar Lynch (PEG = 1), dan Earnings Power Value tanpa pertumbuhan dipakai sebagai pembanding. |
| Infrastruktur | DCF (FCFE) 2 tahap 35% · EV/EBITDA 30% · DDM 2 tahap 20% · Earnings Power 15% | Belanja modal besar dan utang signifikan. DCF menangkap arus kas jangka panjang, EV/EBITDA netral terhadap struktur utang, DDM relevan karena payout tinggi, dan Earnings Power Value memberi batas bawah tanpa pertumbuhan. |
| Konglomerat | PBV wajar 20% · PER wajar 20% · DDM 2 tahap 20% · Residual Income 15% · PER median sektor 15% · Graham Number 10% | Banyak lini usaha dengan profil berbeda. Idealnya Sum-of-the-Parts per anak usaha; pendekatan ringkas di sini memakai PBV dan PER wajar, Residual Income, DDM karena dividen konsisten, PER median sektor, dan Graham Number sebagai cek konservatif. |
| Siklikal / komoditas | EV/EBITDA 40% · PBV wajar 20% · Graham Number 15% · PBV median sektor 15% · PER wajar 10% | Laba sangat bergantung harga komoditas. Dipakai EBITDA dan laba rata-rata siklus (normalisasi 4 tahun) dengan EV/EBITDA, ditambah PBV wajar dan PBV median sektor sebagai jangkar aset, serta Graham Number berbasis laba normal. |
| Bertumbuh, belum laba | EV/Sales 100% | Laba masih negatif sehingga PER, PBV wajar, DDM, Graham, Lynch, dan Residual Income tidak bisa dipakai. Pembanding yang tersedia adalah EV/Sales terhadap emiten teknologi regional. |
| Properti | PBV wajar 30% · PBV median sektor 25% · PER wajar 15% · PER median sektor 15% · Graham Number 15% | Nilai utama emiten properti ada pada cadangan lahan (landbank) yang tercatat di nilai buku, umumnya di bawah nilai pasarnya. Pasar biasa menilai properti dengan diskon terhadap RNAV; pendekatan ringkas di sini memakai PBV wajar dan PBV median sektor, dicek dengan PER wajar, PER median sektor, dan Graham Number. |
| Metode | Rumus | Cocok untuk | Kurang cocok untuk | Rujukan |
|---|---|---|---|---|
| PBV wajar (justified P/B) | (ROE − g) / (ke − g) × BVPS | Bank, asuransi, emiten padat aset. | Emiten aset tak berwujud besar, emiten rugi. | Justified P/B = (ROE − g) / (ke − g), turunan model Gordon. A. Damodaran, Investment Valuation, ed. ke-3 (Wiley, 2012), bab rasio harga terhadap nilai buku. |
| PER wajar (justified P/E) | Payout × (1 + g) / (ke − g) × EPS | Laba positif dan stabil; komoditas memakai laba rata-rata siklus. | Emiten rugi atau laba sangat fluktuatif. | Justified P/E = payout × (1 + g) / (ke − g). A. Damodaran, Investment Valuation, ed. ke-3 (Wiley, 2012), bab multiple laba; M. J. Gordon (1962). |
| DDM 2 tahap | Σ DPSₜ/(1+ke)ᵗ + TV/(1+ke)⁵ | Payout tinggi dan konsisten. | Emiten yang jarang membagi dividen. | Dividend Discount Model dua tahap. M. J. Gordon & E. Shapiro (1956), Management Science; A. Damodaran, Investment Valuation, ed. ke-3 (Wiley, 2012). |
| DCF (FCFE) 2 tahap | Σ FCFEₜ/(1+ke)ᵗ + TV/(1+ke)⁵ | Arus kas stabil: konsumer, farmasi, ritel, telko. | Bank, komoditas, startup rugi. | DCF arus kas ke pemegang saham (FCFE) dua tahap, A. Damodaran, Investment Valuation, ed. ke-3 (Wiley, 2012). Arus kas bebas laporan (arus kas operasi − belanja modal) dipakai sebagai pendekatan FCFE. |
| EV/EBITDA | (Multiple × EBITDA − Utang bersih) / Saham | Padat modal dan siklikal; netral terhadap utang. | Bank dan lembaga keuangan. | Valuasi relatif EV/EBITDA. Multiple per sektor adalah asumsi aplikasi (lihat halaman Metodologi), bukan median pasar. |
| EV/Sales | (Multiple × Pendapatan − Utang bersih) / Saham | Perusahaan bertumbuh yang belum laba. | Emiten yang sudah laba stabil. | Valuasi relatif EV/Sales. Multiple adalah asumsi aplikasi, bukan median pasar. |
| Residual Income | BVPS + Σ (ROE − ke) × BVₜ₋₁/(1+ke)ᵗ + TV | Bank dan konglomerat: nilai buku ditambah laba di atas biaya modal. | ROE negatif; ekuitas sangat kecil karena dividen besar. | Residual Income (Edwards-Bell-Ohlson). E. Edwards & P. Bell (1961); J. Ohlson (1995), Contemporary Accounting Research. |
| Graham Number | √(22,5 × EPS × BVPS) | Cek konservatif ala Benjamin Graham (PER 15 × PBV 1,5). | Emiten aset tak berwujud besar, bank, emiten rugi. | B. Graham, The Intelligent Investor (ed. revisi 1973): PER × PBV sebaiknya tidak melebihi 22,5. |
| Lynch (PEG = 1) | EPS × (CAGR laba % + dividend yield %) | Emiten bertumbuh stabil dengan laba positif. | Komoditas dan emiten dengan tahun rugi. | P. Lynch, One Up on Wall Street (1989): PER wajar ≈ pertumbuhan laba (%) + dividend yield (%), yaitu PEG = 1. |
| Earnings Power Value | EPS normal (rata-rata 4 th) / ke | Batas bawah: nilai bisnis bila tidak tumbuh sama sekali. | Emiten yang nilainya bergantung pada pertumbuhan. | Earnings Power Value. B. Greenwald, J. Kahn, P. Sonkin & M. van Biema, Value Investing: From Graham to Buffett and Beyond (2001). |
| PER median sektor | EPS × median PER emiten sejenis | Valuasi relatif terhadap pembanding di sektor yang sama. | Sektor dengan pembanding sedikit atau laba siklikal. | Valuasi relatif: median PER emiten lain di sektor yang sama, dihitung dari harga dan laporan keuangan terbaru di aplikasi ini. |
| PBV median sektor | BVPS × median PBV emiten sejenis | Bank, properti, dan komoditas yang dinilai dari aset. | Emiten dengan aset tak berwujud besar. | Valuasi relatif: median PBV emiten lain di sektor yang sama, dihitung dari harga dan laporan keuangan terbaru di aplikasi ini. |
| Data | Sumber | Pembaruan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Harga & perubahan harian | Yahoo Finance (kode .JK, Bursa Efek Indonesia) | Diambil ulang tiap 60 detik | Harga BEI di Yahoo tertunda sekitar 10 menit; bukan feed real-time resmi BEI. |
| Laporan keuangan | Yahoo Finance: laporan tahunan (pendapatan, laba bersih ke pemilik entitas induk, ekuitas, jumlah saham, arus kas bebas, EBITDA, utang, kas, total liabilitas) | Tiap 24 jam | 4 tahun buku terakhir. Emiten berlaporan USD dikonversi dengan kurs USD/IDR terkini untuk semua tahun. |
| Dividen | Yahoo Finance: riwayat dividen tunai per saham | Tiap 6 jam | Dividend yield = total dividen 12 bulan terakhir ÷ harga terkini. |
| Beta | Dihitung aplikasi dari harga mingguan 2 tahun emiten dan IHSG (^JKSE) | Tiap 6 jam | Regresi return mingguan, lalu disesuaikan Blume (0,67β + 0,33), dibatasi 0,3–2,5. |
| Kurs USD/IDR | Yahoo Finance (IDR=X) | Tiap 60 detik | Dipakai hanya untuk emiten yang melapor dalam USD. |
| Risk-free, ERP, pertumbuhan terminal | Asumsi aplikasi | Bisa diubah di tiap laporan | Default: SBN 10 tahun 6,8%, ERP 6%, pertumbuhan terminal 5%. |
| Multiple EV/EBITDA & EV/Sales per sektor | Asumsi aplikasi | Tetap | Bukan median pasar; lihat rincian di tiap laporan. |
| Cadangan | Data contoh (perkiraan FY2021–FY2024) | Tetap | Dipakai hanya bila sumber di atas gagal diakses; emiten tersebut diberi label “contoh”. |